RSS

Kontan Sang Inspirator

Di tengah perkembangan dan pertumbuhan dunia bisnis yang semakin tinggi, kebutuhan akan informasi juga semakin tinggi. Dimana informasi yang dibutuhkan tersebut,  tidaklah cukup hanya mencakup isi dari sebuah berita ataupun artikel saja, namun informasi tersebut  haruslah akurat, cepat, dan tepat. Akurat, tentu saja berarti bahwa informasi itu adalah informasi yang sebenar-benarnya yang sudah melalui proses konfirmasi dan verifikasi dari sumber berita; Cepat, artinya informasi itu harus  sesegera mungkin dapat diketahui oleh pengguna (up to date); dan Tepat, artinya informasi yang disampaikan tersebut adalah informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna, dengan demikian informasi yang disampaikan ini mampu menjadi salah satu pertimbangan bagi pengguna untuk mengambil keputusan-keputusan bagi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai entitas bisnis.

Untuk menjawab hal-hal seperti inilah saya kira, alasan Kontan hadir di  tengah kita, terutama untuk menyajikan berita-berita dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita seputar masalah bisnis, keuangan, investasi, dan hal-hal lain yang terkait dengan ekonomi.

Seiring dengan pertumbuhan teknologi,  informasi-informasi tersebut kini dapatlah di akses dari manapun, kapanpun, dan oleh siapapun, oleh karena itu kehadiran www.kontan.co.id  sungguh-sungguh sangat membantu terutama bagi para pelaku bisnis/usaha, investor saham, lembaga-lembaga keuangan baik pemerintah dan swasta, dan lain-lain, karena mampu menjawab tantangan tersebut. Dengan hadir dalam format mobile (mobile.kontan.co.id), Kontan kini dapat diakses secara lebih efisien, cepat dan mudah.

Bicara mengenai informasi, mau tidak mau kita harus melihat content/isi dari produk tersebut, dalam hal ini adalah content dari www.kontan.co.id. Menurut saya, apa yang terdapat dalam www.kontan.co.id sangat baik untuk ukuran portal di Indonesia. Portal ini selalu konsisten menyajikan serangkain berita-berita ekonomi  penting secara up-to-date, serangkaian data sektor-sektor ekonomi yang terlengkap di Indonesia seperti, reksadana, unitlink, bunga deposito, data-data ekonomi makro, harga emas, kurs, data saham, dan sebagainya (belum ada portal lain di Indonesia yang menyajikan data yang lengkap seperti ini), dan lebih hebat lagi kini juga dilengkapi dengan beberapa financial tools, seperti financial diagnosis, risk profile, dan simulasi trading.

Selain itu, bagi saya pribadi, Kontan mampu menyajikan informasi-informasi dengan artikel-artikel yang menarik dan menginspirasi, dan ini menjadi inspirasi tersendiri bagi pembacanya. Diantara sekian banyak kanal yang ditampilkan, kanal peluang usaha (http://peluangusaha.kontan.co.id) adalah kanal favorit saya. Kanal ini banyak memberikan inspirasi dan motivasi kepada saya, sehingga saya berani untuk melakukan banyak hal baru yang memberikan dampak secara ekonomi bagi saya. Buat saya pribadi, www.kontan.co.id , terutama kanal http://peluangusaha.kontan.co.id, sudah mampu untuk menjawab tantangan-tantangan yang diberikan oleh pembacanya. Salam.

 
5 Comments

Posted by on September 19, 2011 in Hobies

 

Tags: , , , ,

suasana solat ied di mesjid alfurqon

image

foto

 
Leave a comment

Posted by on August 31, 2011 in ordinary life

 

puisi WS rendra

———— ——–
salah satu puisi WS rendra
———— ——— ——— —

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Nya,

bahwa rumahku hanya titipan Nya,

bahwa hartaku hanya titipan Nya,

bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang
tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra). –

 
1 Comment

Posted by on April 16, 2010 in ordinary life

 

my Recent Dreams

walaupun dah pindahan, gak ada salahnya gw posting disini, hehehe…

ini nih yang selalu ada di mimpi gw beberapa minggu kemaren,

bingung? gw juga sama bingungnya

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2010 in ordinary life

 

move to www.aalizwell.co.tv

berhubung gw pengen ganti-ganti themes sesuai dengan keinginan gw, jadi akhirnya gw putuskan untuk pindah ke www.aalizwel.co.tv

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2010 in ordinary life

 

KEHILANGAN

KEHILANGAN

By :D ‘Anonim

Kehilangan adalah sebuah pengalaman yang dapat dialami oleh setiap orang. Tidak peduli apakah Anda pria atau wanita, tinggal di kota atau di desa,prajurit atau pun presiden miskin atau kaya raya, penguasa atau rakyat jelata, orang muda atau lanjut usia. Pengalaman kehilangan tidak mengenal agama ataupun suku bangsa. Ia bersifat universal sehingga tidak seorang pun yang dapat luput dari padanya.

Pengalaman kehilangan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada orang yang kehilangan harta, ada pula yang kehilangan orang yang dicintainya. Ada orang yang kehilangan pekerjaan ada pula yang kehilangan tempat tinggalnya. Ada orang yang kehilangan jabatan dan ada pula yang kehilangan kesehatannya. Bahkan pada akhirnya, setiap orang akan kehilangan nyawanya sendiri.

Maka ketika saya berpikir lebih dalam, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa: “Hidup adalah rangkaian pengalaman tentang kehilangan.” Kesimpulan ini bisa jadi merupakan sesuatu yang “menakutkan” bagi banyak orang, sehingga tidak heran bila sangat sedikit yang berani membicarakannya secara terbuka.

Tetapi karena “pengalaman kehilangan” adalah sebuah realita hidup manusia, maka yang terbaik dan paling bijaksana adalah supaya kita belajar mengenali dan menang atas “kehilangan” itu sendiri. Bila tidak, kita akan menjadi orang-orang yang hidup dalam kesedihan dan kekecewaan tak berujung.

Sebagai seorang manusia biasa sayapun merasa berat untuk kehilangan,namun sebagai sesama hamba Alla sudah menjadi kewajiban saya untuk membuat diri saya dan orang lain untuk terus bergerak maju, bekerja dengan antusias dan penuh semangat, guna mendapatkan suatu hasil yang lebih baik dan semakin baik. Namun semakin banyak orang yang saya temui, saya semakin menyadari bahwa ternyata menolong orang untuk mendapatkan sesuatu barulah setengah perjalanan hidup seorang hamba sejati.Karena setengahnya lagi adalah “kehilangan”

Sesungguhnya, perjalanan hidup untuk mendapatkan dan mempertahankan sesuatu, hanyalah satu sisi mata uang. Sisi yang lain daripada kehidupan manusia berbicara mengenai kehilangan apa yang pernah didapat. Pada saat “pengalaman kehilangan” itulah pencerahan yang sejati dibutuhkan. Dan pencerahan ini tidak dapat diberikan oleh Kecerdasan Emotional (SQ). Seseorang yang sedang mengalami kehilangan hanya dapat dicerahkan secara tuntas oleh Kecerdasan Spiritual (SQ) , seperti yang akan kita bahas kali ini. Renungkan kisah berikut…

Kisah Seorang Pemburu

Diceritakan tentang dua orang sahabat yang tinggal di suatu desa. Mereka memiliki kesenangan yang sama, yakni: berburu. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berada di tengah hutan tiba-tiba seekor harimau muncul siap menerkam mereka berdua. Dengan sekuat tenaga kedua sahabat bergelut dengan harimau yang sangat kuat itu, dan harimau itupun berhasil dikalahkan.

Namun akibat dari pertempuran sengit itu, salah satu dari mereka kehilangan tiga jari tangan kanannya. Sementara sahabat yang satu lagi kehilangan seluruh jari tangan kanan dan kirinya. Dengan bantuan seseorang yang tengah lewat, kedua sahabat berhasil kembali ke rumah dengan selamat. Setelah perawatan selama tiga bulan, luka-luka mulai sembuh dan mereka siap memulai hidup baru.

Tetapi dengan berjalannya waktu, sahabat yang kehilangan tiga jari sering murung dan kehilangan gairah hidup. Ia sering marah dan mengurung diri di dalam rumah. Ia sering bercerita betapa kecewanya dia dengan ketiga jarinya yang telah hilang.

Bagaimana dengan sahabat yang kehilangan sepuluh jari? Apakah ia murung dan tersiksa oleh rasa kecewa yang lebih besar? Ternyata tidak, ia masih bisa tersenyum dan mampu menatap masa depan dengan penuh gairah.

Pertanyaanya adalah: mengapa mereka sangat berbeda dalam hal meresponi kehilangan yang mereka alami? Ketiga poin di bawah ini merupakan jawabannya.

1. Tak ada yang kebetulan

Ketika Anda kehilangan sesuatu yang berharga atau ditinggal oleh orang yang Anda cintai, hal yang normal bila Anda menangis dan bersedih hati. Namun jangan biarkan “kehilangan” itu menguasai dan meruntuhkan hidup Anda selamanya. Bangkit dan sadarkan diri Anda bahwa tidak ada satupun yang terjadi karena kebetulan, termasuk juga di dalam kehilangan yang tengah Anda alami.

Di balik semua kejadian selalu, sekali lagi saya katakan, selalu ada maksud dan tujuan yang baik. Memang, pada waktu kita sedang berada di tengah titik “kehilangan” itu, tidak selalu mudah untuk mengenali maksud dan tujuan baik yang dikandungnya. Tetapi bila saja, melalui “kehilangan” itu, kita dapat belajar untuk lebih kuat menghadapi “kehilangan” berikutnya, bukankah hal tersebut telah menjadi sesuatu yang baik dan berharga?

Jadi, sekali lagi mari kita belajar untuk percaya bahwa tidak ada kejadian, bahkan yang paling buruk sekalipun, yang terjadi secara kebetulan atau diluar ijin Sang Penguasa dunia ini. Di tengah “kehilangan”, yakinkan diri kita bahwa Allah masih mengontrol dunia ini, termasuk hidup kita. Karena itu, jangan putus asa, dan jangan pernah menyerah!

2. Menghitung yang Tersisa

Pemburu yang kehilangan tiga jari menjadi kecewa dan tidak mampu bersyukur karena ia terlalu sibuk menghitung apa yang telah hilang darinya. Memang, ketika pikiran kita difokuskan pada apa yang telah hilang maka kehilangan tiga jari bisa terasa sangat menjengkelkan.

Hidup pastilah tidak senyaman seperti waktu memiliki jari yang lengkap. Belum lagi perasaan tertekan di tengah pergaulan. Lalu bagaimana ketika berjabat tangan dengan seorang wanita cantik? Wah betapa sedihnya, betapa repotnya, dan betapa malunya kehilangan tiga jari.

Tetapi pemburu yang satu lagi tidak mengfokuskan pikirannya untuk menghitung sepuluh jari yang telah hilang, karena ia sadar jari itu tidak mungkin lagi dapat tumbuh atau kembali. Ia menolak untuk menjadi korban kejadian masa lalu.

Karena itu, ia memilih untuk menghitung apa yang tersisa dalam hidupnya. Maka kemudian setiap pagi, ia bersyukur bahwa ia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Dia sadar, di hutan itu sesuatu yang jauh lebih buruk bisa saja terjadi kepadanya. Ia bisa saja kehilangan nyawa!

Maka kemampuan kita bersyukur sangat tergantung cara kita menghitung. Bila kita menghitung dari apa yang hilang, maka pastilah kita akan sulit bersyukur. Sebaliknya, bila rasa syukur berangkat dari apa yang tersisa, mungkinkah rasa syukur itutak  akan pernah berakhir?

3. Mendapat Sang Pemberi

Poin yang ketiga ini jauh lebih penting dibandingkan poin yang pertama dan kedua diatas. Untuk dapat menghadapi kehilangan maka seseorang harus naik kelas dari pemahaman spiritual: “Aku ingin mendapat ini-itu dari Allah” menjadi “Aku ingin mendapatkan Allah  itu sendiri (Sang Pemberi ini-itu).”

Maksudnya begini: Banyak orang yang beragama, kemudian berbuat baik atau hidup saleh karena mereka berharap, melalui semua perbuatan baik mereka, hidup mereka diperlancar, keluarga mereka dijagai, usaha mereka dibuat berhasil, tubuh mereka disehatkan.. .oleh yang namanya Allah.

Silahkan baca lagi kalimat di atas, dan renungkan sebentar. Kalau Kita dapat memahami konsep penting ini maka kita akan meresponi kehilangan, bahkan hidup secara keseluruhan secara berbeda. Perhatikan, pada kalimat di atas, yang menjadi tujuan akhir adalah “mendapatkan ini-itu”, dan Allah berperan sebagai “alat”. Sekali lagi, Allah ditempatkan hanya sebagai alat, bukan sebagai Allah.

Risiko bagi orang yang memiliki pemahaman seperti di atas adalah, ketika suatu hari ia ditimpa kemalangan dan mengalami kehilangan, ia akan merasa sangat kecewa, frustasi, putus asa, berhenti berbuat baik dan kemudian mulai mengutuki serta meninggalkan Allah.

Mengapa ia mengutuki dan meninggalkan Allah? Alasannya sangat sederhana: Karena Allah tidak bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang tersebut.

Maka, ketika saya pikirkan lebih dalam lagi tentang konsep ini, maka yang paling menarik adalah: Dari pemahaman seperti di atas, ternyata, sebetulnya yang tengah berperan sebagai Tuhan, bukanlah Allah melainkan manusia yang tengah berharap “ini-itu” tersebut. Sekali lagi, yang terjadi adalah: Tuhan tidak lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh manusia. Jelas, ini adalah pemahaman yang keliru.

Itulah sebab, saya menawarkan pemahaman lain dalam meresponi kehilangan. Mari kita naik kelas dari mengharapkan ini-itu dari Allah, menjadi mendapatkan( ridho) Allah itu sendiri. Hanya dengan pemahaman yang baru inilah, maka hubungan kita dengan Sang Pencipta, tulus didasarkan pada cinta kita kepadaNya, dan bukan cinta kita kepada pemberianNya.

Maka di level pemahaman yang baru inilah manusia dapat berkata: “Di tengah dunia yang fana ini, aku dapat kehilangan segala-galanya. Namun, kendati aku kehilangan segala-galanya, aku ingin pastikan bahwa aku mendapatkan Sumber segala-galanya( rhido Allah), Sang Pemberi. Dan bagiku itulah yang paling berarti!”

Maaf bila kurang berkenan atau berkesan menggurui…

Sekali lagi, “kehilangan” adalah realita hidup manusia. Ketika ia datang menghampiri, dengan tegar mari menghadapinya tiga tips di atas, sampai kita menjadi pemenang.

Wasalam

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2010 in ordinary life

 

KUMPULKANLAH KEMBALI KAPAS-KAPAS

KUMPULKANLAH KEMBALI KAPAS-KAPAS

Action & Wisdom Motivation Training

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat, aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi,” kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja,” kata si sakit.

“Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat.” Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

Netter yang luar biasa.…

Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita.

Kalau memang itu yang akan terjadi, lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. Tentu  jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu yang membuat orang lain berbahagia.

Salam sukses luar biasa![aw]

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2010 in ordinary life

 

PENAKLUK DIRI

PENAKLUK DIRI

Oleh : TY

Suatu ketika seorang kaya raya tetapi terkenal sebagai pemarah berat mendatangi seorang bijaksana. “Guru, berilah atau ajarkanlah saya kesabaran. Sebagai seorang bijaksana, Guru pasti adalah orang yang tepat kemana saya harus meminta kesabaran. Atau jika Guru tidak bersedia, tunjukkanlah ke siapa saya bisa memohon kesabaran”.

Sambil tersenyum lebar, sang Guru menjawab, “Engkau sudah bertemu dengan guru-guru kesabaran tersebut, sangat banyak jumlahnya dan sangat sering malah engkau bertemu dengan mereka dalam kehidupanmu sehari-hari. Tidakkah engkau menyadarinya ?”.

Orang-orang keras kepala, mau menang sendiri, mereka yang menyulitkanmu, mereka yang berlaku tidak sesuai dengan keinginanmu, siapa-siapa yang berbuat tidak baik kepadamu, merekalah sebenarnya guru-guru kesabaran terbaik. Demikian pula situasi dan kondisi sehari-hari yang kurang menyenangkan dan tidak memuaskanmu, sesungguhnya merupakan pemberi pelajaran kesabaran terandal bagimu”, lanjut sang Guru.

Orang-orang bijaksana, para pemuka dan guru agama bukanlah guru-guru kesabaran yang terbaik. Mereka memang bisa mengajarkan, menganjurkan dan mengajak berpraktek kesabaran. Akan tetapi mereka bukanlah pelaku langsung yang aktif dalam pembinaan kesabaran kita.

Kesabaran sangat tidak memadai jika hanya dipelajari teorinya saja. Yang terutama dibutuhkan adalah praktek melalui latihan rutin dalam kehidupan setiap hari. Tanpa praktek langsung, kita hanya ‘bermain’ kesabaran dalam tataran pemikiran saja, atau paling jauh sampai pada level ucapan, tetapi tidak melangkah sampai praktek secara nyata.

Cukup populer cerita mengenai seorang filsuf terkenal jaman dahulu yang suatu ketika terlihat begitu sedih dan tidak bersemangat. Ternyata setelah ditanya kenapa dia berlaku yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya selama ini dimana dia selalu terlihat gembira, ternyata hari itu istrinya sakit sehingga kebiasaan untuk memarahi suaminya tidak dilakukan. Filsuf tersebut bersedih hati karena hari itu dia tidak bisa mempraktekkan kesabaran dalam menghadapi berbagai omelan istrinya seperti yang selama ini dilakukan.

Dalam kehidupan kita terdapat dua kemungkinan situasi :

1.        Suasana batin/pikiran kurang baik (bad mood) ‘ sulit bersikap sabar terhadap hal-hal yang tidak mengenakkan ‘ ladalah atihan kesabaran terbaik.

Kualitas kesabaran dalam diri kita terhadap hal-hal yang kurang menyenangkan akan meningkat pesat jika dilatih ketika kita berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan, tidak baik, tidak menggembirakan, yang benar-benar memerlukan ketahanan mental lebih untuk menghadapinya. Sangatlah berat dan kita cenderung menutup toleransi kita terhadap yang tidak enak yang kita hadapi, jika suasana batin/pikiran kita sedang kurang baik.

2.        Suasana batin/pikiran baik (good mood) ‘ mudah bersikap sabar ‘ bukan latihan kesabaran terbaik.

Kualitas kesabaran dalam diri kita terhadap hal-hal yang kurang menyenangkan akan sedikit sekali peningkatannya jika dipraktekkan dalam situasi dan kondisi diri kita senang, bahagia, gembira. Dalam suasana batin/pikiran sedang ‘terangkat’ pada keadaan membahagiakan maka kita menjadi lebih punya toleransi terhadap segala sesuatu yang kurang baik, yang kita hadapi.

Strategi terbaik :

  • Seharusnya nomor 1 dan 2 digabungkan dalam praktek kesabaran kita.
    ·        Walaupun dalam keadaan bad mood, jangan kita melupakan praktek kesabaran terhadap segala sesuatu yang tidak baik yang kita hadapi sehari-hari.
    ·        Pada saat yang sama kita harus selalu berupaya untuk mengembangkan keseimbangan batin/pikiran kita sehingga selalu baik dan tenang. Dalam suasana batin/pikiran demikian, kita akan mudah memperlihatkan kesabaran terhadap berbagai hal yang tidak enak yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
    Dengan rutin mempraktekkan ketiga strategi di atas, pada akhirnya situasi nomor dualah yang akan lebih sering muncul dalam diri kita sehingga seakan-akan kita terlahir sebagai ‘manusia baru yang lebih baik’.

    Terdapat dua jenis praktek kesabaran, yaitu sabar terhadap hal-hal kecil dan besar.

    Kesabaran terhadap hal-hal kecil merupakan ketahanan mental kita dalam menghadapi situasi dan kondisi kecil yang kurang menyenangkan, yang sebenarnya tidaklah membawa efek yang besar bagi kita, misalnya udara agak panas, penuh orang, harus menunggu, agak macet, berisik, anak rewel dan berbagai gangguan mini lainnya.

    Sedangkan hal-hal besar yang tidak menyenangkan, akan menuntut praktek kesabaran yang lebih sulit misalnya dicaci maki orang, difitnah tanpa dasar, dilukai secara fisik maupun perasaan, kehilangan besar harta benda maupun orang-orang yang kita sayangi, dan kejadian-kejadian lain yang umumnya mampu menimbulkan bekas cukup dalam di diri orang yang harus mengalaminya.

    Orang sabar sama sekali bukanlah orang lemah, penakut, tidak punya keberanian atau tidak punya harga diri, melainkan seorang penakluk diri yang jauh lebih bernilai dibanding penakluk orang lain.

    Tentunya kesabaran yang dipraktekkan bukanlah ‘kesabaran membuta’ melainkan kesabaran yang rasional dan sesuai dengan tata aturan yang berlaku sehingga istilah ‘kesabaran ada batasnya’ kadang-kadang memang harus diperlihatkan jika situasi dan kondisi memang mengharuskan demikian.
    Semoga kita termasuk pada golongan orang yang sabar.

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2010 in ordinary life

 

Menghadapi Orang Sulit di Kantor!!!!

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering menjumpai orang-orang tertentu yang sulit dihadapi. Orang- orang jenis ini juga ada di kantor kita dalam berbagai variasinya. Ada tipe orang yang tak pernah berhenti bicara dan kalau sudah bicara tak bisa disela atau pun susah distop, dan orang macam ini umumnya tak mau mendengar. Ada tipe lain lagi yang selalu punya kata untuk mengomentari orang lain, atau yang lebih parah lagi suka mengkritik pekerjaan temannya, yang bukan bagiannya dan dia sendiri tidak pernah sadar akan kewajibannya serta kesalahannya. Kita juga menjumpai adanya orang-orang yang tak bisa menjaga komitmen.

Diantara orang-orang seperti itu ada yang diam-diam maupun terang-terangan menempatkan diri sebagai pesaing Anda, misalnya dalam meraih simpati dan opini positif dari atasan. Sebagian yang lain lagi mungkin ada yang berusaha menjatuhkan Anda sehingga memaksa Anda untuk selalu merasa seolah-olah Anda perlu balik mengawasi dia. Orang-orang tertentu ditempat kerja Anda mungkin juga membentuk ‘geng’ tanpa memasukkan Anda menjadi anggotanya, sehingga Anda menjadi merasa tersisih.

Begitulah, orang-orang yang sulit semacam itu, yang pada gilirannya membuat kita juga berada dalam situasi yang sulit, ada dalam setiap lingkungan kerja. Kita harus menyadarinya. Tak peduli jenis situasi sulit seperti apa yang kita temukan, orang atau situasi yang sulit tak mungkin kita hindari. Kita harus menghadapinya. Mengapa demikian –mengapa tak kita diamkan saja?

Menurut kolumnis masalah SDM Susan M Heathfield, bila kita mendiamkan saja orang-orang yang sulit seperti itu, situasi tidak akan berubah dengan sendirinya, dan biasanya akan makin buruk. Cuek, atau pura-pura tidak tahu hanya akan memperbaiki situasi di permukaan, namun sebenarnya justru menunda konflik yang kelak bisa meledak menjadi sesuatu yang bersifat kontraproduktif.

Pada dasarnya, orang berada dalam situasi “shock” ketika mereka diperlakukan secara tidak profesional. Jika Anda menghadapi situasi seperti itu, cobalah renungkan dan pahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sekali Anda telah menyadari apa yang sedang terjadi, membiarkan diri berlama-lama berada dalam situasi sulit bukanlah pilihan yang tepat. Jangan sampai situasinya menjadi semakin tidak rasional sehingga membuat Anda marah dan sakit hati. Susan mengingatkan, alangkah jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit selagi kita masih bisa bersikap objektif dan mengendalikan emosi.

Lebih penting lagi, membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan di tempat kerja, bukan hanya akan membuat Anda disalahkan karena dinilai “tidak becus menghadapi situasi layaknya seorang profesional dewasa”. Lebih dari itu, salah-salah Anda bahkan bisa dicap sebagai “orang sulit” juga. Sekalinya Anda dicap begitu, maka sulit untuk menghapusnya dan berdampak buruk terhadap perkembangan karir Anda ke depan.

Jadi, ketimbang situasinya menjadi terbalik, lebih baik Anda hadapi orang yang sulit di lingkungan kerja Anda sejak dini. Susan memberikan cara yang produktif untuk menghadapi mereka:

1. Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri. Yakinkah Anda bahwa masalahnya adalah orang lain, dan bukan Anda sendiri saja yang overacting?

2. Diskusikan apa yang sedang Anda alami dengan teman atau kolega yang terpecaya.

3. Dekati orang yang Anda anggap sumber masalah tersebut untuk diajak bicara dari hari ke hati.

4. Tindak lanjuti pembicaran empat mata itu: apakah ada perubahan sikap? Apakah lebih baik? Atau, lebih buruk? Perlukah dilakukan pembicaraan lanjutan?

5. Hadapkan orang yang sulit itu ke publik. Misalnya, sindir dia dengan humor yang halus sampai yang agak kasar.

Jika kelima cara di atas tidak berhasil dengan baik, lakukan langkah berikut:

1. Libatkan pihak lain. Termasuk, bicarakan dengan atasan. Catatlah bahwa masalahnya bukan lagi sebatas antarpribadi melainkan sudah menyangkut profesionalitas dan produktivitas kerja Anda yang terganggu. Blak-blalan saja pada bos, betapa sulitnya menghadapi orang tersebut.

2. Kerja sama dengan karyawan lain yang punya masalah yang sama dengan orang tersebut. Tapi, hati-hati dengan pendekatan ini. Ingat selalu bahwa Anda ingin menyelesaikan masalah, dan bukannya sedang menggalang sekutu untuk menjatuhkan orang lain

3. Jika pendekatan tersebut gagal membuahkan hasil yang menggembirakan, cobalah batasi akses orang yang sulit tersebut terhadap diri Anda.

4. Pindah ke divisi/group lain. Tentu saja ini tergantung besar-kecilnya perusahaan tempat kerja Anda, tapi yang jelas Anda tak bisa lagi bekerja dengan orang yang sulit itu. Jadi, pindah bagian adalah pilihan mutlak.

5. Bila hal itu tidak mungkin, cabut saja dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sebab, Anda bukan orang yang sulit mencari kerjaan ditempat lain. (Dari berbagai sumber)

Semoga Bermanfaat !!!

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2010 in Work days

 

MAU JADI BOS ATAU LEADER ?

MAU JADI BOS ATAU LEADER ?
oleh Isa Alamsyah

Apa yang membedakan ‘bos’ dengan ‘leader’?
Apa bedanya “PEMIMPIN” dan “PIMPINAN”, jangan jangan kita anggap sama.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa BOS adalah PIMPINAN sedangkan LEADER adalah PEMIMPIN. Itu definisi sederhana saya.
Bos atau pimpinan atau atasan adalah kedudukan/jabatan struktural dalam sebuah organisasi atau komunitas. Sedangkan leader atau pemimpin adalah bentuk pengakuan dan penghormatan atas peran, fungsi, pengaruh dan kontribusi seseorang. Seorang bos atau pimpinan tidak selalu menjadi pemimpin bagi bawahannya. Sebaliknya banyak pemimpin yang dihormati dan dihargai, tapi tidak mempunyai jabatan struktural.
Sebagian besar orang menganggap, ketika seorang menduduki pucuk pimpinan sebuah perusahaan atau pemerintahan, mereka telah menjadi “pemimpin” atau “leader”. Padahal tidak selamanya demikian.
Orang yang menduduki posisi puncak suatu organisasi memang menjadi “pimpinan” atau “bos” bagi yang lain. Mereka mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari yang lain, tapi tidak berarti mereka otomatis menjadi “pemimpin” bagi yang lain.
Betapa banyak kepala negara yang membawa kesengsaraan rakyatnya. Betapa banyak pimpinan perusahaan yang justru membawa karyawannya ke jurang kehancuran.
Pemimpin adalah mereka yang akan membimbing, mengarahkan, dan membawa kita kepada jalan atau pencapaian yang lebih baik.
Dunia akan menjadi jauh lebih baik jika para pimpinan berfungsi dengan baik sebagai pemimpin atau leader bukan sebagai atasan atau bos.
Semoga buku ini ikut melahirkan pemimpin berkualitas di masa depan.
(Selanjutnya saya akan bocorkan betahap, apa bedanya bos atau leader di seri leadership artikel kami).

Di kutip dari buku poket motivasi :
Pilih Jadi Bos atau Leader di tulis oleh Isa Alamsyah

Catatan tambahan:
Jangan langsung bangga jika punya anak buah, karena belum tentu itu menunjukkan Anda pemimpin (leader).
Punya anak buah menunjukkan bahwa Anda pimpinan mereka, tapi belum tentu pemimpin mereka.

Jika Anda punya murid di kelas mungkin Anda adalah guru mereka tapi belum tentu jadi PENDIDIK

Ketika Anda Mempunyai anak, pasti kita menjadi ayah atau ibu biologis dari anak anak, tapi belum menjamin kita menjadi ORANG TUA panutan mereka.

Tapi yang terpenting kita adalah kit amau jadi PEMIMPIN untuk diri sendiri atau jadi PIMPINAN untuk diri sendiri. Kalau kita jadi bos untuk diri sendiri lakukan sesuka hati, tapi kalau mau jadi PEMIMPIN diri sendiri, lakukan sebaik mungkin.

 
1 Comment

Posted by on March 2, 2010 in ordinary life

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.